Sumber : Buku Koleksi Museum Banyumas yang disusun oleh Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2023
Tokoh Khas Wayang Kulit Gagrag Banyumas
Bawor
Bawor adalah salah satu tokoh dalam kelompok Punokawan dalam Gagrag Banyumas, anak tertua dari Semar. Punokawan yang termasuk dalam golongan humoris dalam pewayangan adalah pengikut atau abdi para golongan ksatria sekaligus sebagai penasihat. Bawor dalam pewayangan Gagrag Banyumas selalu dimunculkan baik sebagai tokoh pendukung dalam adegan Gara-gara (merupakan bagian untuk menghibur penonton), atau sebagai tokoh utama cerita yang dipentaskan seperti "Bawor Dadi Ratu". Bawor dalam pertunjukan wayang membawa identitas sebagai orang biasa yang memiliki watak cablaka (berbicara apa adanya atau blak-blakan) yang sekaligus menjadi identitas atau ciri khas warga Banyumas. Dengan karakter cablaka tersebut, Bawor juga menjadi ikon dari warga Banyumas karena dianggap sebagai gambaran atau representasi budaya Banyumasan.
Srenggini
Srenggini adalah putra keempat Werkudara atau Bima hasil pernikahan dengan Dewi Rekatawati atau Ratnawati. Dalam cerita wayang pada umumnya Werkudara hanya memiliki tiga putra, yakni Raden Antareja, Raden Gahotkaca, dan Raden Antasena. Tokoh Srenggini sebagai salah satu putra Werkudara tidak dikenal dalam kisah pewayangan Gagrag Surakarta maupun Yogyakarta.
Bentuk fisik wayang kulit tokoh Srenggini mirip tokoh Antasena, tetapi memiliki capit sesuai dengan ceritanya yang merupakan cucu dari seorang dewa kepiting atau Yuyu, yaitu Batara Reka Pratama. Selain memiliki supit atau capit, Srenggini memniliki Aji Thothok Sewu yang dapat mengubahnya menjadi kepiting raksasa. Kemunculan Srenggini dalam pementasan wayang terdapat dalam beberapa lakon, antara lain Srenggini Takon Rama, Lairé Srenggini atau Pandhawa Mbangun Kali Serayu dan lakon Rabiné Radèn Srenggini.
Jaewana dan Sontoloyo
Jaewana dan Sontoloyo merupakan tokoh punokawan raksasa (buta) dalam wayang kulit Gagrag Banyumas Kidul Gunung. Kedua tokoh ini menggunakan busana mirip tokoh punokawan atau abdi para ksatria (Semar, Bawor, Petruk, Gareng), hanya saja wajahnya menyerupai raksasa yang memiliki taring. Jaewana dan Sontoloyo muncul dalam adegan perang kembang atau perang antara ksatria melawan raksasa dan kerap muncul dalam lakon cakilan pathet sanga.
Sarawita
Sarawita adalah seorang abdi atau punokawan tokoh raksasa dalam wayang Banyumas Gagrag Lor Gunung. Dalam pertunjukan wayang, Sarawita berpasangan dengan tokoh Togog. Karakter Togog merupakan karakter umum yang dikenal pada Gagrag Surakarta dan Yogyakarta. Pada gagrag Surakarta dan Yogyakarta tersebut Togog berpasangan dengan karakter Bilung.
Sarkawi
Tokoh Sarkawi merupakan tokoh pewayangan khas Gagrag Banyumas. Sarkawi termasuk golongan Kurawa dan pengikut Pendeta Drona. Penamaan Sarkawi sendiri bukan merupakan hal baku bagi dalang yang memainkannya. Dengan bentuk sama, tokoh ini dapat memiliki nama berbeda sesuai kreatifitas sang dalang diantaranya yaitu:
Dalang
Nama Tokoh
Ki Nawan
Sentel
Ki Waryan
Dhegel
Ki Niswan
Murawi
Ki Suyud
Lisun
Ki Kusno
Disel
Ki Soegito Purbo Carito
Sarkawi dan Dhegel
Ki Darsim
Dhegel
Ki Sugino Siswocarito
Binter
Ki Bongkot Siswodiharjo
Joker
Tabel 1. Penamaan Sarkawi
Tokoh ini lebih dikenal pada Gagrag Banyumas Lor Gunung daripada Gagrag Kidul Gunung. Bentuk wayang tokoh Sarkawi menyerupai tokoh Petruk, hanya tubuhnya lebih kecil, hidungnya tidak terlalu panjang, menggunakan sepatu beserta kaos kaki dan kaos dalam (singlet).
Dhundung Bikung
Dhundhung Bikung merupakan tokoh pewayangan Gagrag Banyumas termasuk golongan raksasa Δ―enaka. Kemunculan Dhundhung Bikung dalam pementasan wayang kulit Gagrag Banyumas pada umumnya setelah adegan Gara-gara. Karakter Dhundhung Bikung selalu dinanti kehadirannya oleh para penonton dalam setiap pementasan wayang karena digambarkan sebagai seorang tokoh yang jenaka sehingga menjadi hiburan bagi penonton. Dhundhung Bikung dikisahkan selalu bertikai dengan tokoh Bawor yang juga merupakan tokoh bersifatjenaka.
Sumber : Buku Koleksi Museum Banyumas yang disusun oleh Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2023
Sumber : Dinporabudpar Kabupaten Banyumas
Wayang Kulit Gagrag Banyumas
Wayang Gagrag Banyumas merupakan pertunjukan wayang kulit yang berkembang di daerah yang termasuk dalam wilayah Karesidenan Banvumas (Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap). Seperti pada umumnya pertunjukan Wayang Kulit Purwa di daerah lain, Wayang Gagrag Banyumas mengambil cerita dari epos Mahabharata dan Ramayana yang kemudian dikembangkan oleh seniman-seniman dalang lokal sehingga terciptalah lakon atau cerita dan tokoh khas Gagrag Banyumas yang tidak dijumpai pada pertunjukan Wayang Kulit gagrag lain seperti Gagrag Surakarta atau Gagrag Yogyakarta.
Lakon atau cerita dalam pewayangan Banyumas disesuaikan dengan karakter masyarakat Banyumas yang cablaka (lugas dan blak-blakan). Karakter cablaka jelas tergambar pada karakter Bawor yang merupakan simbol masyarakat Banyumas. Bawor merupakan tokoh punokawan, atau abdi para ksatria dan pangeran yang selalu jujur dan bicara apa adanya. Selain tokoh Bawor, karakter-karakter lain seperti Antasena, Puntadewa dalam pewayangan Banyumas juga memiliki gaya bicara cablaka, yang berbeda dengan penggambaran dipedalangan daerah lain.
Aliran pedalangan Gagrag Banyumas masih dalam pengaruh wayang-wayang dalam wilayah Vorstenlanden atau daerah-daerah monarki di Jawa seperti Kraton Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, maupun Mangkunegara. Pada perkembangannya, aliran pedalangan di Banyumas dibatasi oleh pegunungan sebagai sekat sosial sebuah komunitas, hal tersebut membagi pewayangan Gagrag Banyumas menjadi 3 (tiga) gaya pergelaran yakni:
Gagrag Lor Gunung
Gagrag Lor Gunung mengacu pada Gagrag Surakarta atau Mangkunegara. Ciri khas gagrag ini adalah pergelaran yang lebih meriah dalam pertunjukannya dan memadukan unsur kebebasan, tidak terpaku pada pakem pedalangan akan tetapi penuh dengan Sanggit (merubah alur cerita tetapi tidak keluar dari substansi cerita).
Cakupan wilayah: Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara.
Gagrag Kidul Gunung (Gagrag Pesisiran)
Gagrag ini mengacu pada Gagrag Mataraman atau Yogyakarta yang lebih memegang teguh Pakem Pedalangan dalam pertunjukannya.
Cakupan wilayah: sepanjang pantai selatan Kebumen bagian sebelah timur, hingga ke barat di sisi sungai Citanduy sebagai batas antara Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Gagrag Ginoan
Gagrag Ginoan merupakan penggabungan Gagrag Lor Gunung dan Gagrag Kidul Gunung serta gagrag pedalangan lain. Gagrag Ginoan merupakan gaya pedalangan kreasi dari dalang Ki Sugino Siswocarito (asal Notog, Patikraja) yang memperkenalkan unsur-unsur efek suara, pencahayaan, unsur dramatisasi dalam pertunjukan ketoprak yang digabungkan dengan pakeliran klasik Banyumas.
Sumber : Buku Koleksi Museum Banyumas yang disusun oleh Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2023
Sertifikat Museum Wayang Banyumas Nomor 0004/MK.B/KB.11.01/2024 dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia
BONOKELING
Sumber : Dinporabudpar Kabupaten Banyumas
Tradisi Bonokeling adalah salah satu warisan budaya dan kepercayaan yang masih lestari di Banyumas – Cilacap, Jawa Tengah. Tradisi ini terkait erat dengan tokoh leluhur spiritual bernama Ki Bonokeling, yang dianggap sebagai penyebar Islam awal di wilayah tersebut.
π Asal-usul Bonokeling
Ki Bonokeling adalah tokoh penyebar Islam yang dihormati di wilayah Banyumas – Cilacap pada abad ke 15 - 16.
Makamnya berada di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas.
Dari situlah berkembang Komunitas Bonokeling, yang masih melestarikan ajaran, tradisi, dan ritual leluhur hingga sekarang.
π Tradisi Bonokeling di Banyumas
Tradisi ini memiliki pusat kegiatan di sekitar makam Ki Bonokeling. Ritual utamanya:
Nyadran (Ziarah Makam)
- Dilaksanakan menjelang bulan Ramadan.
- Ratusan hingga ribuan orang dari Banyumas, Cilacap, dan sekitarnya berziarah ke makam Ki Bonokeling.
- Mereka berdoa, bertahlil, dan menghaturkan penghormatan pada leluhur.
Unggah-unggahan (Sedekah Bumi)
- Warga membawa hasil bumi (beras, singkong, sayur, buah) untuk dimasak bersama.
- Melambangkan rasa syukur kepada Allah serta penghormatan pada warisan Ki Bonokeling.
Doa dan Ritual Bersama
- Dilakukan di area makam dan rumah tokoh adat (juru kunci/ketua adat).
- Isi doa mencakup syukur, permohonan keselamatan, serta pengingat pada kehidupan sederhana.
πΏ Nilai Tradisi Bonokeling
Religius: menguatkan iman dan doa untuk leluhur.
Sosial: mempererat silaturahmi antarwarga, karena yang datang biasanya rombongan.
Budaya: melestarikan nilai adat Jawa – Islam khas Banyumasan
Ekonomi: menjadi penggerak kegiatan ekonomi lokal saat ritual berlangsung.
π Komunitas Bonokeling di Banyumas
Komunitas pengikut ajaran Bonokeling tersebar di desa-desa Banyumas dan Cilacap bagian selatan. Mereka menjaga nilai-nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan gotong royong. Pusatnya tetap di makam Ki Bonokeling (Pekuncen, Jatilawang, Banyumas), yang dianggap suci dan sakral.
π Jadi, Bonokeling Banyumas adalah tradisi religi - budaya berupa ziarah, doa, dan sedekah bumi untuk menghormati Ki Bonokeling, yang sampai kini masih dijaga komunitas adat di Banyumas – Cilacap.
CAGAR BUDAYA KABUPATEN BANYUMAS (PENDOPO SIPANJI PURWOKERTO)
Sumber : Dinporabudpar Kabupaten Banyumas
Keputusan Bupati nomor : 430/128/tahun 2019 Komplek Pendopo Sipanji Purwokerto masuk daftar Cagar Budaya Kabupaten Banyumas
ποΈ Pendopo Si Panji Purwokerto
Lokasi: Kompleks Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Banyumas, Jl. Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Status: Termasuk dalam usulan Benda Cagar Budaya Kabupaten Banyumas, karena memenuhi syarat sebagai bangunan berusia lebih dari 50 tahun dan memiliki nilai sejarah–budaya tinggi.
π Sejarah Singkat
1582 → Dibangun oleh Adipati Wargautama II (Joko Kaiman/Adipati Mrapat), Bupati Banyumas Pertama. Nama “Si Panji” berasal dari saka guru (tiang utama) pendopo.
1861 → Tetap kokoh meskipun dilanda banjir besar “Blabur Banyumas”, sehingga dianggap keramat.
1937 → Pusat pemerintahan dipindahkan dari Banyumas Lama ke Purwokerto, pendopo ikut dipindahkan dengan cara khusus (tidak boleh menyeberangi Sungai Serayu langsung, tetapi lewat jalur memutar).
π Nilai Cagar Budaya
Sejarah Pemerintahan: Menjadi simbol perjalanan Kabupaten Banyumas dari masa kerajaan hingga pemerintahan modern.
Arsitektur Jawa Tradisional: Bangunan joglo dengan saka guru asli yang masih terawat.
Nilai Sakral: Dipercaya masyarakat memiliki kekuatan spiritual sejak peristiwa banjir 1861.
Identitas Daerah: Menjadi ikon Kabupaten Banyumas.
Fungsi Sosial-Budaya: Masih dipakai untuk acara pemerintahan, budaya, hingga edukasi sejarah.
Sumber : Dinporabudpar Kabupaten Banyumas
Makna Tradisi Boyongan Saka Sipanji , Prosesi ini adalah simbolis dari pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas dari Banyumas ke Purwokerto, yang terjadi sekitar tahun 1937 di waktu pemerintahan Adipati Arya Sudjiman Gandasubrata
Pelaksanaan Prosesi
Cara Pelaksanaan
Sejumlah replika saka (tiang) diboyong dari Pendopo Duplikat Si Panji di Banyumas menuju Pendopo Si Panji di Purwokerto. Umumnya dilakukan secara estafet oleh masyarakat, ASN, pelajar, dan seniman—diselingi pertunjukan seni lokal. Model sambatan ini dikenal sebagai rengos
Jumlah Saka dan Hikayat Menarik
Tiga saka diboyong secara langsung, sedangkan satu saka lainnya diasumsikan sudah berada di Purwokerto tanpa melalui Sungai Serayu—karena menurut hikayat, jika melalui sungai tersebut, kabupaten akan ditimpa bencana banjir.
Rute dan Jarak Tempuh
Boyongan menempuh sejauh sekitar 16,4 kilometer melalui rute Banyumas → Kalibagor → Sokaraja → Berkoh → Jalan Jenderal Soedirman → Purwokerto, terbagi dalam 16 etape kecil dan 5 etape besar.
Waktu Penyelenggaraan
Tradisi ini biasanya digelar saat menjelang Hari Jadi Kabupaten Banyumas, sekitar tanggal 22 Februari—contohnya:
2017 (HUT ke-446): Kirab jarak 25 km, bahkan anggota Forkopimda dan masyarakat ikut serta; berbagai elemen masyarakat bersinergi dalam gotong royong membawa saka.
2018 (HUT ke-447): Prosesi dimulai dengan ziarah, wayang ruwat, kemudian boyongan saka secara estafet dengan melibatkan siswa dan seniman; acara ditayangkan di televisi.
2019 (HUT ke-448): Pelepasan dilakukan oleh Menteri Puan Maharani yang juga ikut kirab dengan mobil antik bersama pejabat lain.
2020 (HUT ke-449): Sekda melepas acara yang tetap berjalan meski hujan deras. Replika saka tiba dan diterima dengan berbagai simbol adat seperti penyerahan tikar, lampu teplok, bantal, hingga hiburan Lengger.
Nilai Sosial dan Budaya
Prosesi Boyongan ini merefleksikan:
Semangat gotong royong dan kebersamaan, di mana masyarakat dari berbagai unsur bersatu dalam satu tujuan.
Pelestarian sejarah lokal sebagai identitas dan catatan budaya ingatan kolektif Banyumas.
Pelibatan lintas generasi, dari pelajar hingga pejabat, mengenalkan nilai budaya kepada masyarakat masa kini.
Sumber : Dinporabudpar Kabupaten Banyumas dan banyumaskab.go.id
LENGGER BANYUMAS
Sumber : Dinporabudpar Kab. Banyumas
Lengger Banyumas adalah seni pertunjukan tradisional khas Banyumas yang berupa tarian rakyat. Kata lengger berasal dari gabungan kata “elingo ngger” (elingo = ingatlah, ngger = panggilan sayang untuk anak laki-laki), yang maknanya adalah pengingat agar orang selalu ingat kepada Tuhan.
Namun, dalam perkembangannya lengger lebih dikenal sebagai tarian hiburan rakyat yang biasanya dibawakan oleh penari perempuan (disebut ledhek atau ronggeng). Dalam beberapa versi lama, penari bisa juga laki-laki yang berdandan seperti perempuan (lengger lanang).
Ciri khas Lengger Banyumas:
Gerakannya luwes, gemulai, dan penuh ekspresi kegembiraan.
Musik pengiringnya adalah gamelan Banyumasan dengan irama khas, sering disertai tembang-tembang Banyumasan.
Busana penari biasanya menggunakan kebaya atau kemben dengan jarik, dihiasi selendang (sampur).
Fungsinya tidak hanya hiburan, tapi juga sebagai sarana sosial, ritual (misalnya dalam acara adat), hingga media ekspresi budaya masyarakat Banyumas.
Sekarang, Lengger Banyumas menjadi salah satu Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan masih sering ditampilkan dalam festival budaya, hajatan, maupun pentas seni di Banyumas.
KENTHONGAN
Sumber : Dinporabudpar Kab. Banyumas
Kenthongan Banyumas adalah salah satu seni musik tradisional khas Banyumas yang menggunakan kentongan (kentongan kayu/bambu) sebagai alat musik utama.
Kenthongan pada dasarnya adalah alat komunikasi tradisional dari bambu atau kayu berlubang yang dipukul untuk memberi tanda (misalnya tanda bahaya, ronda malam, atau panggilan warga). Namun, di Banyumas, fungsi itu berkembang menjadi seni musik rakyat yang dimainkan secara berkelompok.
Ciri khas Kenthongan Banyumas
Instrumen utama: kentongan bambu/kayu berbagai ukuran (untuk menghasilkan nada berbeda).
Instrumen tambahan: calung, kentang (bambu kecil), kendang, angklung, gong bambu, hingga alat musik modern seperti gitar atau drum (dalam versi kontemporer).
Irama: sederhana, rancak, penuh semangat, mencerminkan gaya Banyumasan yang lugas dan merakyat.
Fungsi:
Awalnya sebagai sarana komunikasi dan pengamanan lingkungan (siskamling).
Berkembang menjadi hiburan rakyat, pengiring karnaval, festival, hajatan, hingga pertunjukan seni daerah
Kenthongan sebagai Seni Pertunjukan
Penampil biasanya berupa grup kesenian yang memainkan berbagai ukuran kentongan.
Sering dipadukan dengan tari-tarian rakyat Banyumas.
Musik kenthongan kini sering dibawakan dalam Festival Kenthongan Banyumas, yang rutin digelar pemerintah daerah untuk melestarikan budaya lokal.